Sunday, June 28, 2009

- - Thief of Time - -

Tik, tik… detik demi detik
Nit, nit… menit per menit
Mm, mm… jam pun berkumandang
Kala detik berlari mengejar menit dan berganti jam, terus berputar, konstan!

Hari ini,
Pekan nanti,
Bulan depan,
Tahun baru,
Sewindu, dekade, abad, millennium, dkk, berotasi…
Semua selalu berbau dan berdimensi waktu!

Sunrise to sunset, dawn till dusk,
Morning, noon, afternoon, evening, night and midnight
Spring, summer, fall and winter

24/7
Time after time, ticking constantly!
There it goes…. there it goes again…

It’s just the matter of time, a period of life…
Not the quantity, but the quality, instead.
Use it and take it for granted, don’t waste it…
Yesterday = history, tomorrow = mystery, today = gift
No past, yet future, only present.
It’s a gift made by us, not given by the thief of time!

[Solo, May 21/2008]

Friday, June 19, 2009

Sustainable Happiness

I never expect my whole life would be running totally fine, excellent always. I know that life is just a life, with all melodramatic episodes inside. It’s not a book filled of dreamy pages. Although I can always dream or wishes upon my own living, but some dreams just stay as dream, stick on my database and kept long lasting as a remembrance on my mind.

I know and truly aware that life is not always full of laughs and smiles.
Life covers a series of ups and downs. There’re many evolutions and rotations in cycle of life.
Well, those two last statements are maybe the most current definitions what at least I can say to you about my own life. Born and now living as a girl, female, and woman, is never been so that easy for me. Particularly for myself, who is so damn lucky becoming the one and the only baby girl in my family. In addition, I live in Indonesia and have Javanese blood, where traditions and traditional customs are still hold value in some parts of life.

There’s a time when someone, a friend of mine, asked me some questions. He said: “Karin, what would you say about life?” Well, “How you define the meaning of life?” he added.
Some seconds passed by, I was thinking then. Few minutes later, I was still thinking. Well, I didn’t want to look like a fool in front of him, since I know that he’s a smart guy (and cute too, ops!). Besides, I didn’t want to sound like a plastic girl by giving a sound-smart-though-bullshit answer to him.
Then, after a moment, I replied to him: “Life for me is a united process; a cycle of many constant and continued various processes that building me up into a much better and useful person for the sake of my own and for others. It’s not only the matter of being exist in this physical existence world, but also the matter of achieving a real existence to get sustainable happiness inside out of our true self.” Hearing my answers, he nodded and then smiled. I smiled too.

How can I define “Happy”? What does happy means? Is it a noun? Is it a verb? Is it an adjective? Or is it just a sound-nice-word?
What is the right definition of “Happiness”? Is it the situation when we feel happy? Is it a state of being happy? Or is it something that can make you, and I keep smiling and laughing, as live joyfully ever after?
There’re some moments of mine, in the past and in the present days, where I wish I could erase and remove them out of my life. Whish they were never happened. Why? What can I say, there’re some moments of mine that brought sadness and negativism in me. They made me cried, they made my disappointed, they made me turned out into yellow and blue, they just made me unhappy. Sometimes, I’m so tired and then denial them and tried to abandon them. But that was long ago before I realized the true meaning of life. Very long time ago before I met my friend that asked me about the meaning of life. Now, I do not want to erase anything that ever happened to me, in my life.
As I said before, life is a process. Moreover, it is a united process that covers many cycles of constant and continued various processes that occur for more many good reasons.

It’s not about the pursuit of happiness. Moreover, it’s about to achieve the sustainable happiness that really matters.

Tuesday, June 16, 2009

Does GOD really wink?

Wink
wink [wingk]
v (past winked, past participle winked, present participle wink•ing, 3rd person present singular winks)
1. vti gesture by closing one eye briefly: to close one eye briefly, usually either as a friendly greeting or to show that something just done or said is a joke or a secret


Co•in•ci•dence
co•in•ci•dence [kō ínsidənss]
n (plural co•in•ci•dences)
1. Chance happening: something that happens by chance in a surprising or remarkable way
2. Happening without planning: the fact of happening by chance
3. Having identical features: the fact or condition of happening at the same time or place or being identical (formal)



Tidak ada yang namanya kebetulan.
Dan apa yang tampak oleh kita sebagai sekadar kebetulan
Sebenarnya muncul dari sumber takdir yang terdalam

Johann von Schiller

Rumusan kata kebetulan diuraikan dalam American Heritage Dictionary sebagai “Suatu urutan peristiwa yang meskipun terjadi tanpa disengaja tetapi sepertinya sudah direncanakan atau diatur”. Rumusan ini tentu saja memunculkan pertanyaan, “Direncanakan atau diatur oleh siapa?”

Sebagian besar orang akan mejawab, “Tentu saja oleh Tuhan.”
Terlepas dari apa pun sebutan yang kita gunakan untuk menyebut kekuatan hidup maha kreatif itu, sepertinya kekuatan itu bukan sekadar arsitek dari masa lampau, tetapi juga arsitek setiap menit dari kehidupan kita saat ini.

Jadi ada arsitek yang menciptakan hidup kita. Kalau begitu, apa peran kita di dalamnya?

Tentunya bukan sekadar duduk di tepian dan menonton kehidupan kita terkuak.


Nasib bukanlah soal kebetulan. Tetapi soal pilihan.
Nasib bukanlah sesuatu yang perlu ditunggu.
Tetapi sesuatu yang perlu dicapai.

William Jennings Bryan


Kita bisa mempengaruhi masa depan dan takdir kita, dan isyarat Tuhan (yang merupakan sebuah isyarat, petunjuk ataupun pesan pribadi, langsung dari suatu kekuatan yang lebih tinggi, yang biasanya, meskipun tidak selalu, dalam bentuk kebetulan) bisa membantu kita melihat apakah pilihan kita sudah tepat.
Ketika kita membuat pilihan, menjalani hidup dari hari ke hari, dan belajar dari masa lalu, isyarat-isyarat yang kita terima adalah tepukan di punggung dari alam semesta yang meneguhkan kita untuk terus berjalan, meyakinkan kita untuk terus berpengharapan, dan membuat kita tetap hidup.

Kita hanya perlu menerima bahwa meskipun hidup seringkali merupakan misteri,
Kita --masing-masing individu—mempunyai peran di dalam semesta misteri itu terungkap.
Kita perlu bertindak untuk impian kita dan hadir untuk penampakan ilahi dalam kehidupan sehari-hari. Itulah takdir kita.

Mulai dari sekarang, manakala peristiwa kebetulan muncul, terutama di saat-saat penting dalam hidup kita, mudah-mudahan kita akan berkata, “Aaahhh, mungkinkah itu Isyarat Tuhan?”
Kemungkinan besar itu memang Isyarat Tuhan.

Segala sesuatu akan tampak berbeda bila kita mampu dan mau melihatnya dari sudut pandang yang lebih tinggi 


(Adapted from “When God Winks -- How the Power of Coincidence Guides Your Life”, SQuire Rushnell, 2002)

Sunday, June 14, 2009

Curiosity of Change

“You say you wonder your own life. Everybody’s changing and I don’t know why… “
[Keane, everybody’s changing]

As the time passing by, as the modernity keeping tune, and as the planet earth rotating in its axe, life with all of its substance transforming.

Terkadang ketika kita, sebagai manusia, memasuki masa-masa peralihan akibat reaksi puberitas dan pergaulan di lingkungan sosial, hal-hal yang diluar nalar kaum remaja pun banyak berlalu lalang dalam dinamika kehidupan kita yang makin kian menggemuk.
Tak ada lagi kepolosan khan bocah SD atow kekhasan daya pikir remaja SMP, yang ada hanya berbagai pola pikir yang bertajuk ‘gejolak kawula muda’. Funny, but not so that hilarious comedy, karena seperti yang ada dalam film-film atau serial populer Hollywood macam ‘Mean Girls’ atow ‘the OC’, jadi ‘kawula muda’ itu nggak (begitu) mudah. Kebanyakan nonton kartun di TV dibilang “nggak dewasa”, lebih asik berkegiatan individual di rumah dibilang “nggak gaul”, tapi kalo keasikan beredar sampai (terpaksa) harus pulang larut malam dibilang “kebangetan”, namun kalo mengisi waktu luang dengan bergabung dalam beragam komunitas berbau positif dan mengurahkan daya pikir dan imajinasi selain yang berbau akademisi di komunitas-komunitas tersebut eh dibilang “sok sibuk”. Do’oh! Nah lo!

Pencarian jati diri? Penelusuran identitas pribadi?
Lho emangnya ilang, kog dicari-cari? Hihi..
Kadang saya bisa menjadi teramat penasaran, apa arti dari semua ini (segala bagian dari serentetan episode dalam visualisasi sinema besar berjudul “HIDUP”) dan kemana segalanya akan bermuara, berakhir dan terendap. What’s the ending? Apakah hanya akan jadi seberkas debu dalam liang lahat yang berjudulkan nama, tanggal tempat lahir, dan tanggal tempat kematian serta mungkin sebuah moto ataupun foto kenangan diri tertoreh di sebuah nisan? Atau sebenarnya bukan itu yang menjadi sebuah akhir dari segalanya, karena semua yang hidup sejatinya pasti akan mati, segala yang ada harfiahnya akan menjadi tiada.
Atau bukannya lah akhir yang sebenarnya kita, kaum manusia seringkali pertanyakan, namun apa yang ada sebelumnya. Apa yang ada setelah ‘awal’ dan yang ada sebelum ‘akhir’, yaitu ‘isi’. Beragam pertanyaan ini mungkin muncul sebagai reaksi atas rasa penasaran dari dalam diri kita atas segala detil perubahan yang selalu terjadi.
A series of reaction upon the curiosity of change. Hal ini kadang kala membuat kepala saya terasa berat dan penat mengingat segala sesuatunya semakin terasa cepat. Kelahiran, kematian, kehilangan, dan berbagai rasa keterasingan serta kekayaan diri dan spiritual semakin mengisi ruang waktu dan relung kalbu.

Albert Einstein once said “The important thing is not to stop questioning”. Well, he is so damn true. Marilah kita, let’s just follow our guts and instinct upon all that type of curiosities, because I truly know for sure that everything is changing and everyone (including myself) is changing constantly, off course in a better definition and determination upon a recognition of asking question or questioning our life.
Carpe diem!

Friday, June 5, 2009

(10) Ten things I miss the most from SOLO city


Suatu ketika, seorang kawan lama bertanya ke saya “eh, enakan mana hidup di Jakarta apa di Solo?”. Lalu jawab saya “Enak semua!”.
I love these two cities, indeed! Saya memang cukup lama tinggal di kota Solo, kurang lebih 5 tahun dihabiskan di kota kelahiran leluhur saya ini.

Well, speaking about the town, I had my own idea about the state of being comfort in a city. Apa yang bikin saya merasa nyaman jelas bisa bikin saya merasa kangen.
So, I think I should tell you about my state of mind upon one of my favorite cities in Indonesia, namely Solo. Namun yang saya ungkap di sini dilihat dari kacamata pribadi atas nama cita rasa, dan kerinduan masa lalu.

(10) Ten things I miss the most from SOLO city:

1.The FOOD
Nggak tahu kenapa, ketika inget Solo, hal pertama yang terlintas di kepala saya adalah “semar mendem, sego kucing, nasi liwet, tempe gembus, jenang, selat, baso kalirangan, sate buntel, tengkleng, dawet, timlo, HIK, dkk…” hehehe. Bukannya karena doyan banget ma makanan, tapi simply just because the food in this town were totally great! Bahkan Pak Bondan Winarno, sang idola wisata kuliner Indonesia mengakuinya. Di kota ini apa aja yang enak ada, terutama makanan khas tradisionalnya. P.S: Great here refers to “enak dan murah meriah euy, yakin” 
Saya jadi ingat, dulu sewaktu saya baru saja sah menjadi mahasiswi dan kuliah di Fakultas Sastra di UNS, saya “seneng dan sering” banget “maen” ke dua kantin sastra (FYI, sastra punya 2 kantin, yang di bawah ataupun yang di atas). Saking seringnya ngendon di sana, sampai-sampai saya jadi lumayan dikenali di 2 tempat tersebut. Hal ini kemudian terus berlangsung selama saya berlabel mahasiswi UNS, hehehe.

2.The CROWD
Masyarakat Solo tuh mostly ramah-ramah, tapi bukan rajin menjamah lho, ramah aka friendly beneran. Orang-orang Solo masih pada murah senyum, baek-baek, dan sopan sekian. Terutama para tukang becak (khususnya kalau kita naik becak mereka tanpa pake menawar ongkos, hehehe).

3.The AIR
Meskipun akhir-akhir ini, udara siang begitu panas, dan udara malam lumayan dingin walau kadang-kadang juga bikin gerah, hawanya masih lumayan enak lah. Bau udaranya Solo banget deh! ^^

4.The SPOTS
You name it, dari mulai yang tradisional ampe modern, semua ada di sini. Dari Kraton (Kratonnya ajah ada dua, Kasunanan ma Mangkunegaran), Kalitan, Pasar Klewer, Pasar Gede, Sriwedari, TBS, sampe City Walk, Mushro, Hailai, serta beraneka ragam mall seperti Solo Grand Mall (SGM), PGS, BTC atau Solo Square bertebaran di berbagai pojokan kota. Di kota yang tidak terlalu besar ini ada lumayan banyak tempat2 hangout gaul yang cukup seru. Been there!

5.The STREET
Nggak pernah macet (kecuali disaat ada perayaan, karnaval budaya atau event-event tertentu semacam demonstrasi atau kirab massal). Merupakan arena yang menyenangkan bagi para pengendara kendaraan beroda 2 atau beroda 4, dan juga beroda 3 (Becak-red). Free traffic jams; guarantee, almost in every time, every corner of street. Indahnya dunia…
FYI judul Bis angkutan kota yang beredar di jalan Solo lumayan “bernama”, tapi alur treknya kurang bervariasi, mungkin karena jalur jalannya yah cuman itu-itu ajah, jadi gampang diinget! Tapi jangan harap bisa menemukan bis yang masih “bernyawa” setelah magrib, karena sebagian besar sudah masuk kandang jam 6 sore.
Walaupun rada sempit dan sering jadi multifungsi, tapi jalan-jalan di Solo Raya jauh lebih ramah daripada jalan-jalan di Jakarta. Sayangnya kurang pedestrian friendly, typical Indonesia banget deh!

6.The MEMORIES
Lot of stories, lot of memories, esp. for me =P… in almost every corner in this cozy city. Yup, beragam kenangan dan cerita saya bersama para sahabat, rekan sejawat serta keluarga yang telah terukir di kota ini sangat banyak dan beraneka rasa serta rupa…(Hiks, jadi kangen)

7.The BOLO-BOLO
Teman, sahabat, sisters and brothers of mine, lot of them that I miss a lot. Big hug and kiss, kiss for them; my bolo-bolo in Solo, hohoho. I miss u all guys!

8.Bunch of Relatives
Yeah, para anggota keluarga sedarah. Secara, kedua orangtua saya merupakan native solo (aka. keduanya merupakan asli 100% Solonese). Jadi, intinya yah banyak banget sodara saya yang ada dan berasal dari kota ini, dan pastinya selalu bikin saya kangen deh.

9.My Granny
Eyang putri. Saat ini, dari garis keturunan, saya hanya memiliki Mbah putri seorang. Beliau sangat Jawa sekali, dengan balutan pakaian tradisional dan kemampuan berbahasa Indonesia yang sungguh seadanya, namun penuh dengan wejangan filosofis. Eyang putri saya ini seorang yang lucu dan kocak. Saya ingat sewaktu dulu saya masih tinggal bersama, beliau seringkali membuat kemampuan-berbahasa-Jawa-saya-yang-lumayan-kaku-rada-wagu
ini jadi terpakai dan sedikit terasah.
Oh, I miss her very much!! ><

10.My CRIB
Definitely, thing I miss the most if we’re talking about Solo is my room. Atau, sekarang lebih tepatnya disebut my-ex-room. Sebuah kamar kecil di lantai atas… yang sodara-sodara saya seringkali menyebutnya sebagai “omah-mu-kui-loh” (mereka sudah menganggap ruangan atas searea sebagai “rumah pribadi saya”, secara yang menguasainya saat itu hanya saya, hehehe). Kamar atas saya, Loteng, balkon tempat saya memandang langit, bintang (dan jemuran para tetangga, serta pohon rambutan Pak ketua RW, ops! :P)

Only ten things, but absolutely I miss them very so much!

Sebenernya banyak banget hal yang bikin saya jatuh hati dan jadi cinta mati dengan kota Surakarta atau yang lebih beken dengan nama Solo ini, tapi karena sangking banyaknya bisa-bisa malah jadi bikin saya kangen dan sedih lagi. Secara saya sudah hidup mengembara di kota ini selama setengah dasawarsa. So,daripada jadi sedih, mending udah dirangkum ajah lah jadi 10 biji diatas. Yang enak2, yang bikin kangen, tentu akan memancing saya balik lagi, someday, next time.

Solo BERSERI.
Kota Solo Kota Berbudaya,
Kota Solo penuh memori dan sejarah untukku, it’s a wonderful city of mine!

Monday, May 18, 2009

A Clue For the Adams!

Semantics**


Call a woman a kitten, but never a cat;
You can call her a mouse, cannot call her a rat;
Call a woman a chicken, but never a hen;
Or you surely will not be her caller again.


You can call her a duck, cannot call her a goose;
You can call her a deer, but never a moose;
You can call her a lamb, but never a sheep;
Economic she likes, but you can’t call her cheap.


You can say she’s a vision, can’t say she’s a sight;
And no woman is skinny, she’s slender and slight;
If she should burn you up, say she sets you afire;
And you’ll always be welcome, you tricky old liar.



(**A poem entitled “semantics” by John E. Donovan, in the Saturday Evening Post,July 13, 1946 as cited in Mccrimmon’s)

A new girl on the block!

Nge-Blog.... As a new girl on the block!

Sebenernya udah lama banget saya belajar tuk punya blog... dari dulu semenjak masih di bangku kuliah... Terlalu semangat malah, sampe-sampe saya punya banyak blog di dunia maya, tapi cuman numpang punya nama... *sigh*

Kini, setelah tak lagi jadi mahasiswi dan gara-gara didorong banyak orang, maka menulislah saya disini...
So, i welcome you.. ops.. welcoming myself as the new girl on the blog! :D